By.Riezky Oktorawaty (@riezkyoktorawaty)
Siapa dia? Sepertinya ada anggota keluarga baru. Katanya, dia berencana menetap mulai hari ini. Aku pun saling sapa dengan nya. Hanya saling sapa, karena walaupun kita tinggal di tempat yang sama, dan berada dekat dengan aku, aku tak bisa menyentuhnya. Aku pun tak begitu jelas dengan posturnya. Ah biarlah, toh ini sudah malam. Saatnya terpejam.
******
Hangat, tempat tinggalku hangat. Oh, sudah pagi. Aku membuka perlahan, sedikit silau. Aku memaksakan diriku membuka penuh.
“Selamat pagi Mata!” sapa Bibir padaku.
Aku balas sapaannya dengan kerjapanku. Bagaimana dengan dia, apakah sudah bangun? Aku masih penasaran, siapakah namanya?
Duh, tangan ini kebiasaan deh, ga perlu mengacak-acak aku kan. Aku sudah bangun kok. Nih, bening kan mataku, jangan buat jadi merah karena tingkahmu dong.
Tangan itu pun beralih ke Dagu, dengan enaknya dia memerintahkan kuku-kuku untuk menggarukkan di dagu. Kasihan sekali si Dagu, apalagi dia. Apa yang dia rasakan yah, saat tangan dan kuku-kuku itu menggaruknya?
Sepertinya tangan itu menyadari sesuatu yang janggal dengan si Dagu. Telunjuk memutari dia. Dan anehnya Kening ini ikut-ikutan berkerut karena keheranan. Reflek, kaki-kaki itu melangkah ke Cermin.
Cermin, aku sedang ada di depanmu. Dan tiba-tiba terdengar teriakan.
“Oh No!”
Ada apa Bibir, ada apa gerangan, kenapa kamu teriak.
“Siapa yang ada di dekatku ini?”
Lho, aku pikir Bibir dan dia sudah saling kenal. Karena dia memilih tinggal di dekat Bibir semalam. Ternyata sama saja denganku, belum mengenal dia.
Cermin, ternyata bentuk nya lucu yah. Bulat, putih. Cermin pun hanya tertawa melihat ketertegunanku.
“Jerawat!”
Ups, nama dia Jerawat tho. Kenapa heboh sih?
Pasti hebohlah, dagu indah Tuanku jadi ternoda kan, jelas Cermin padaku. Iya, yah, bukannya tempat ini terbiasa bersih dan halus. Tuanku rajin merawat tempat ini dengan facial foam ber merk. Lalu salah siapa dia terlahir di tempat ini?
Tuanku yang salah, kata si Dagu. Kenapa bisa begitu? Iya, udah tahu alergi telur, tetep aja di makan, jadinya Jerawat kan.
Oh, ternyata telurlah yang melahirkan Jerawat.
Ya sudahlah, toh, resiko buat Tuanku kan teman. Cermin kembali tertawa, seakan membenarkanku sekaligus mengejek Tuanku. Tempat tinggal kita – wajah Tuanku, tak lagi cantik. Semua gara-gara satu Jerawat, Si Noda Cantik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar