Rabu, 11 Mei 2011

SURAT RINDU


Kriiinngggg……!!!!!!!! Suara bel mengagetkanku dari tidur panjangku , aku bergegas lari membukakan pintu , ohh ternyata pak pos pengantar surat. Sambil berjalan menuju kamarku aku membuka amplop surat cantik berwarna pink dengan motif bunga di sekelilingnya ,
            Hay Rhei , apa kabar nih ? aku harap kamu sehat-sehat disana.  Masih ingatkah sama aku ?? J ehm aku teman lama kamu waktu masih duduk di bangku SD , aku dapat alamat tempat tinggal kamu dari tetanggamu yang dulu rumahnya sering kita pakai untuk belajar bareng , bermain , sampai kita SMP kita masih pinjam rumahnya tante anti sebagai tempat untuk bercua-cuap ria J , ingatkah kamu Rhei ?? , syukurlah kamu mengingatnya , aku seneng kalau kamu masih inget masa-masa dimana aku dan kamu saling bertukar cerita , ilmu dan bahkan tak jarang kita bertengkar walau hanya karna hal sepele .
Rhei aku sudah bekerja sebagai pengajar di salah satu sekolah terbuka di pulau Biak , Papua… aku ingin berjumpa denganmu Rhei walau hanya 1 jam saja , aku tak’kan lewatkan kesempatan itu… Rhei terima kasih kamu masih meluangkan waktumu untuk baca suratku ini. Rhei… ingatkah kamu disaat pertama kali aku cerita tentang Ben , masih ingat dengan cowok keren itu , iah walaupun dia begitu mengagumkan . Kehadirannya  sempat membuat kita menjadi jauh , seolah ada tebing tinggi diantara kita berdua. Cemburu iah cemburu itu yang kamu bilang saat pertama kali Ben pegang tanganku untuk membalut luka di tanganku karna aku berusaha membantumu memotong bambu muda untuk praktikum tugas pak Edi , heeiii ingatkah kamu dengan pak Edi , bapak guru yang selalu melemparkan penghapus papan tulis kearah kita berdua saat kita bercanda di sela-sela waktu mengajarnya J.
Sudah 10 tahun aku tak berjumpa denganmu Rhei , ingin hati ini segera pulang dan berjumpa denganmu , memelukmu dan mengucapkan Hulla Hulla Duppy sambil berjabat tangan , waaoooo kamu masih mengingatnya J aku senang sekali kamu masih mengingat cara kita berjabat tangan , hal aneh tapi mampu menghipnotis  seluruh teman sekelas untuk ikut melakukannya , benar sekali Rhei kita dulu adalah trendsetter di dalam kelas. Hahaha iah walaupun nggak populer di sekolah paling nggak kita popular didalam kelas heehee…
Ehm Rhei… maaf yah suratku ini membuatmu pusing karna harus mengingat-ingat masa-masa kita dulu..
Belum selesai kubaca surat itu , aku benar-benar pusing aku sungguh tak bisa mengingat siapa gadis yang mengirimiku surat , tapi belum selesai air mata ini tak kuasa untuk kutahan terus di tempatnya , dan sudah seharusnya aku lepaskan jaring-jaring pengikat yang menampung air mataku , aku sedih karna belum mengingat dia , dia pemilik surat manis ini , dan kembali aku membuka lembaran surat itu dan memutuskan untuk lanjut membacanya ..
Rhei  jangan nangis yah , aku tau kamu pasti bingung siapa aku , aku nggak memaksa kamu untuk membaca surat ini tapi kamu yang sudah penasaran untuk membuka amplop manis suratku ini , karna memang sangat cantik bungkus dari suratku ini J . Rhei aku tak bisa bersabar hanya untuk menunggu waktu berbicara dan memberiku kesempatan untuk boleh bertemu denganmu … aku hanya memiliki waktu 3 hari terhitung dari sampainya surat ini … titut , masih ingat nama panggilan usil yang aku berikan padamu , ehmm baiklah aku akan kembali menceritakan padamu , panggilan titut aku berikan sewaktu kamu usil memainkan bel gerobak bakso yang menjadi bakso favorit kita berdua yang selalu lewat di depan rumahmu , walau kadang kita harus antri untuk mendapatkan seporsi bakso edan itu J . kamu masih belum ingat ???? , ahhhh sudahlah aku tak’kan memaksamu lagi , aku ingin kau tersenyum setelah membaca suratku ini … Papa dan mama sepakat untuk membiarkanku menjalani apa yang aku ingin lakukan di akhir kesempatanku menghirup udara segar dan menikmati kicau burung gereja di  pulau kecil ini . Rhei tersenyumlah . itu yang ingin kulihat saat kamu selesai membaca suratku ini..
Aku tak’kan kecewa jika kamu tak dapat mengingatku… aku kecewa bila kau ingat aku lalu kau menangis tanpa sebab yang jelas.. Untuk Rheina Anggun Melati “hanya ada satu warna yang akan kupilih dalam hidupku dari sejuta warna indah pelangi , yaitu mentari.. sanggupkah aku menjadi mentari ??”

PEREMPUAN MASA LALU


Sebuah jarum jam telah menunjukan angka 12 tetapi masih saja kehidupan tampak disekitar halamn rumah yang sederhana namun memberi kesan damai dihati, pemiliknya seorang perempuan tua yang dulunya mungkin cantik, itu terlihat dari guratan kulit halusnya, masih tersisa aura yang dulu terpancar. Dia hidup sebatang kara, tak ada yang menemani disaat hari tuanya. Sekitar 10 tahun yang lalu, dia seorang perempuan yang cantik dengan sejuta talenta yang ada di dirinya. Dia mempunyai seorang ibu dengan 7 adik-adiknya. Mereka hidup tenang. Dan setelah perempuan itu dianugerahi kekayaan yang secara tiba-tiba dia dapatkan dari seorang bos besar. Sejak itulah kehidupannya berubah secara drastic. Hidupnya tampak glamour dan bermewah-mewahan. Dan sejak saat itulah dia mulai berteman dengan teman-temannya yang tergolong high class. Hari demi hari dia lalui dengan keceriaan yang bersifat mewah, terkotak dalam ruang yang namanya kotak mewah. Terbius dengan segudang  aktifitas mewah, sehingga seakan keluar dari jalur hidup semula yang merupakan cikal bakal dari kehidupannya yang dulu. Mulai melupakan ibunya yang dulu mengandung dia, melupakan keringat yang dulu pernah dikeluarkan oleh ibunya untuk sekedar menyusuinya. Semua saudaranya ditinggalkannya demi ketenaran dan kepopuleran yang semu di mata Tuhan. Manusia memang maklum tapi tidak dengan Tuhan, Saat murka-NYA datang, dia merasa tidak siap, dia goyang laksana layangan yang ditiup angin. Kembali merupakan aib dan rasa malu sudah menjadi alas tidurnya sehingga dia harus berjalan beralas tanah kering yang tiada henti memaki kakinya yang dulu mulus. Keadaan dia sekarang merupakan karma dari melupakan seorang yang berjasa dalam hidupnya. Seorang ibu yang dengan tulus mengeluarkan keringat dan ikhlas berjalan di tanah kering hanya untuk melihat anaknya tumbuh dan menjadi manusia yang berguna untuk dunia yang semakin tua.

by: @optimuspras

Jumat, 22 April 2011

Hujan kan Redakan Surammu

by prassmystring

Cuaca yang begitu panas menyentuh kulit ari itu, berjalan dengan sedikit terhuyung-huyung karena terlalu banyak makan tadi malam. sesaat dia menoleh untuk kemudian menyeberang menuju rumahnya yang tidak terlalu besar untuk seukuran dia. sesampai dirumah dia meminum semangkok air, tetapi lesu wajahnya tak kunjung berubah. sumpek, sedih, membuat dia tampak begitu semrawut wajahnya. Tampak diluar mendung berarak menuju tempat yang seharusnya ditempatinya, udara tiba-tiba dingin, angin kencang sehingga beberapa daun berguguran karena terpaanya. Sesekali guntur menunjukan kilatmya pada dunia. Menjelang sore awan sudah menunjukan komunitasnya, mereka berkumpul saling sapa untuk menghasilkan ratusan rintik hujan, dan ribuan air pun langsung mengguyur jalanan yang dari siang hari tadi sudah jenuh akan panasnya matahari. Dia melihat kearah luar, sungguh segar kalau badan ini terkena curahnya, pikirnya dalam hati. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu, dia teringat akan menjemput saudaranya disebuah daerah. takut terjadi apa-apa, dia langsung meloncat keluar dan berlari menuju daerah tempat saudaranya menunggu. Curah hujan pun tidak dihiraukannya, dia berlari ke depan. Tiba-tiba dia berhenti sambil merasakan yang dia rasakan saat itu. Guyuran air merembes hingga di ujung kulit arinya, merasakan dengan penuh rasa tenang dan kedamaian di hati. Andai semua orang mempunyai hati yang damai seperti yang dia rasakan saat itu, maka dunia tak akan seperti saat ini, semrawut dan carut marut dalam dunia ambisi dan nafsu. Dia membuka mata dan berusaha tersenyum, wajah itu kini di hiasi senyum yang begitu indah. Hati kecilnya pun kini berdamai dengan raut wajahnya. Sumringah dan berbinar terpendar dari senyumannya. Dia berteriak "Aku bahagiaaaaaaa.....", hujan yang dari tadi tersenyum hingga mengeluarkan ribuan airnya, masih mengguyur dengan setianya, masih setia membangun rasa hati kegundahan dia dan menggantinya dengan sebuah keceriaan. dan hujan kan redakan surammu.

Kerinduan Hujan Pelangi


by Arta (Kelinci_biru)
 
        Hujan sore ini temaniku berlagu dalam sendiriku , dalam lorong sunyi ini , dalam gelap ini , dengan harmonica usangku yang tak pernah lepas dari genggaman tanganku , kulantunkan satu lagu tentang ibu , yah … hanya satu lagu yang slalu kumainkan kala aku mengingatmu , ibu… senandung rindu yang hanya untukmu , tak kan bisa hentikkan waktuku tuk melagukannya untukmu… langit yang gelap , gemercik rintik hujan membuatku tak bisa menahan emosiku , yang semakin bernafsu memainkan harmonica usangku ini… hanya ini yang ku punya disaat aku tak mampu meraih jemari lembutmu … kerinduanku tuk memeluk ragamu tak pernah lagi kudapatkan  . dalam keramaian ku sendiri , menghibur setiap pejalan kaki , kulakukan semua ini hanya untukmu , yang telah ajarkan ku tuk terus lakukan apapun yang kusuka tuk kebahagiaanku.
Walau harus kubermandikan air hujan , aku tak mengapa … , walau harus aku bekerjaran dengan sang waktu , hanya untuk sekeping uang receh tuk mengisi perutku.. walau aku harus bergantung pada tongkat kecilku.. hanya tuk bisa menemuimu di kala senja tiba.. aku tak mengapa… ibu… ku bersenandung hanya untukmu , lewat hujan ini ku dendangkan lagu rindu untukku… lihatlah aku sekarang … aku bisa bernyanyi untuk mereka yang selalu ucapakn selamat pagi untuk seorang ibu hebat yang telah memberikan nafas hidup dan waktunya tuk berikan buah hatinya waktu untuk melihat indahnya pelangi.. yang hanya bisa kurasakan , ku imajinasikan ke elokkan warna nya.. dari setiap suara yang berbicara… mata ini tak dapat melihat keindahan dirinya tapi hati ini melukiskan keelokkan nya … Kasihku atas kasihmu berikanku kekuatan tuk berbagi kasih dengan meraka yang mengasihiku dalam lelahku.

 

Sabtu, 09 April 2011

Si Noda Cantik

By.Riezky Oktorawaty (@riezkyoktorawaty)


            Siapa dia? Sepertinya ada anggota keluarga baru. Katanya, dia berencana menetap mulai hari ini. Aku pun saling sapa dengan nya. Hanya saling sapa, karena walaupun kita tinggal di tempat yang sama, dan berada dekat dengan aku, aku tak bisa menyentuhnya. Aku pun tak begitu jelas dengan posturnya. Ah biarlah, toh ini sudah malam. Saatnya terpejam.
******
            Hangat, tempat tinggalku hangat. Oh, sudah pagi. Aku membuka perlahan, sedikit silau. Aku memaksakan diriku membuka penuh.
“Selamat pagi Mata!” sapa Bibir padaku.
Aku balas sapaannya dengan kerjapanku. Bagaimana dengan dia, apakah sudah bangun? Aku masih penasaran, siapakah namanya?
Duh, tangan ini kebiasaan deh, ga perlu mengacak-acak aku kan. Aku sudah bangun kok. Nih, bening kan mataku, jangan buat jadi merah karena tingkahmu dong.
Tangan itu pun beralih ke Dagu, dengan enaknya dia memerintahkan kuku-kuku untuk menggarukkan di dagu. Kasihan sekali si Dagu, apalagi dia. Apa yang dia rasakan yah, saat tangan dan kuku-kuku itu menggaruknya?
Sepertinya tangan itu menyadari sesuatu yang janggal dengan si Dagu. Telunjuk memutari dia. Dan anehnya Kening ini ikut-ikutan berkerut karena keheranan. Reflek, kaki-kaki itu melangkah ke Cermin.
Cermin, aku sedang ada di depanmu. Dan tiba-tiba terdengar teriakan.
“Oh No!”
Ada apa Bibir, ada apa gerangan, kenapa kamu teriak.
“Siapa yang ada di dekatku ini?”
Lho, aku pikir Bibir dan dia sudah saling kenal. Karena dia memilih tinggal di dekat Bibir semalam. Ternyata sama saja denganku, belum mengenal dia.
Cermin, ternyata bentuk nya lucu yah. Bulat, putih. Cermin pun hanya tertawa melihat ketertegunanku.
“Jerawat!”
Ups, nama dia Jerawat tho. Kenapa heboh sih?
Pasti hebohlah, dagu indah Tuanku jadi ternoda kan, jelas Cermin padaku. Iya, yah, bukannya tempat ini terbiasa bersih dan halus. Tuanku rajin merawat tempat ini dengan facial foam ber merk. Lalu salah siapa dia terlahir di tempat ini?
            Tuanku yang salah, kata si Dagu. Kenapa bisa begitu? Iya, udah tahu alergi telur, tetep aja di makan, jadinya Jerawat kan.
            Oh, ternyata telurlah yang melahirkan Jerawat.
            Ya sudahlah, toh, resiko buat Tuanku kan teman. Cermin kembali tertawa, seakan membenarkanku sekaligus mengejek Tuanku. Tempat tinggal kita – wajah Tuanku, tak lagi cantik. Semua gara-gara satu Jerawat, Si Noda Cantik.




Jumat, 08 April 2011

Menulis Yuk.....

Menulis….
Kata orang butuh keahlian khusus jadi seorang penulis. Jadi nggak semua orang bisa nulis. Benarkah??? Hemm… mungkin. Tapi bukankah Every Body’s Writters?? Bukankah kalau lagi sms-an berarti lagi nulis?? Bukankah orang yang pernah mengenyam bangku sekolah pernah menulis??
Berarti, menulis itu mudah. Tak sesulit yang ada dalam bayang. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya agar setiap goresan tinta kita bisa diakui oleh publik. Karena seorang penulis butuh pengakuan dari publik.

Bagaimana mengawalinya??
Karena setiap kita adalah penulis, maka tak butuh tips dan trik khusus untuk menjadi penulis. “Tak ada trik khusu untuk mengawali menulis. Seperti orang yang ingin bisa mengendarai sepeda, jika ingin mahir maka ia harus mengambil sepeda itu. Kalau jatuh, naiki lagi, jatuh lagi, naiki lagi. Pun dengan menulis, jika ingin pinter menulis, maka ambil laptop, komputer, buku lalu tulis.” Demikian yang dikatakan oleh Farid Tolomundu, seorang penulis NTB yang termasuk dalam 30 Penulis Muda Indonesia Berbakat, saat ditanya tentang masalah itu. Intinya, tulislah apa yang terlintas di pikiran anda dan jangan berfikir apa yang mau anda tulis. 

Bagaimana agar bisa diakui publik??
Banyak jalan menuju Roma, banyak cara dalam dunai menulis juga. Sekarang sudah zaman canggih. Sudah zaman cyber. Sudah gencar dunia maya. Kenapa tidak dimanfaatkan? Seorang Psikolog, DR. Muazzar Habibi, yang menulis buku Berhentilah Menjadi Gelas, sebenarnya ia bukan penulis bergengsi. Tapi ia bisa mendapatkan keuntungan bersih dari bukunya sekitar 80 Juta. Dan konon, uang itu digunakan untuk biaya study di jenjang Profesornya. Bagaimana bisa seperti itu? Kenapa kita tidak bisa seperti beliau?
Dalam kata pengantar buku itu, penulis menyampaikan bahwa awalnya ia menganggap bahwa FaceBook tidak cocok untuk menyambung lidah dakwah. Sehingga ia pun tidak mau melirik situs jejaring itu. Hingga ia bisa dikatakan gaptek dengan masalah gituan. Tapi setelah bertemu dengan mantan Rektor Univ Mataram, ia akhirnya sadar bahwa anggapannya salah. Ia pun minta dibuatkan akun pada mantan Rektor itu. Beberapa lama bergelut dengan dunia itu, ia aktif menulis status-status inspiratif. Latar belakangnya yang mumpuni dalam masalah psikolog, tulisannya pun bisa sampai ke hati pembaca. hingga akhirnya muncul beberapa comment untuk membukukannya. Itulah kronologis penulisan buku tersebut.

Intinya gini, melalui kisah tadi, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa baberapa trik agar tulisan kita diakui oleh publik di antaranya dengan cara:

1. Face Book
Dengan menuangkan ide dan gagasan yang ada di kepala kita di situs ini, paling tidak teman-teman di dunia maya ini yang akan menjadi pembaca aktifnya. Selebihnya, semoga ada yang lain.

2. Twitter
Yang ini juga tidak jauh beda dengan yang nomor satu. tinggal dicoba saja.

3. Blogg
Daftarkan diri anda segera di blogg-blogg gratis yang berserakan di dunia maya. Kemudian posting tulisanmu di situ, pasti akan diterima. Dan publik akan tahu kalau anda suka menulis. Saya nggak bisa blogging…??!! kenapa harus pusing, kan di mas google banyak nyediain tips dan trik membuat blog. tanya saja sama dia. gitu aja kok repot.

4. Ikut Lomba
Banyak penyelenggara lomba menulis yang disosialisasikan lewat internet. Silahkan cari saja. keuntungannya, tulisan anda akan diedit dan dinilai. Jika lolos, berarti tulisan anda memang sudah diakui publik. jika tidak lolos, ya bersabar saja. Karena memang takdir Alloh seperti itu. Ini artinya, kita harus lebih giat lagi berjuang dan berlatih. Yang penting sudah ikut berpartisipasi.  Dan Alloh menilai kesungguhan kita dalam berusaha, bukan hasil dari usaha itu.

5. Ikut bergabung dengan organisasi kepenulisan atau millis
Untuk organisasi kepenulisan, pasti sudah tahu. Di antaranya Kopswriting atau yang lainnya. untuk millis, atau forum diskusi via dunia maya, bisa dicari saja di internet, banyak kok.  

Ini yang Paling Penting!!

Apa itu??

Ini dia: NIAT!!
Ya luruskan niat kita sebelum jadi seorang penulis!! Apa motivasi kita untuk menjadi penulis? Uang, ketenaran, atau pahala? Jika kita mengejar pahala, sungguh ketenaran dan uang yang akan mengejar kita. Bukankah kita mengenal Imam Bukhari dari buku legendarisnya, Shahih Bukhari? Atau Imam Ibnu Hajar dari Fathul Bari’-nya? atau Kang Abik dikenal karena tulisan fenomenalnya? Sebagai seorang muslim, niatkan agar setiap goresan tinta kita bermuatan dakwah yang membawa ke jalan hidayah. Bukan malah menyesatkan atau membuat kerancuan dalam agama. dan jika kita meniatkan karena uang atau ketenaran, bisa jadi kita tidak akan mendapatkan pahala sama sekali. meski yang ditulis seputar religi. karena, bermuara pada niat kita yang tidak dibenarkan syari’at.

Yah itu saja dulu. Semoga bermanfaat. Sebagai permulaan.

Graphology

Graphology adalah cara membaca karakteristik seseorang melalu tulisan tangan. Dari irama menulis, bentuk huruf, tekanan pen di kertas, huruf2 yang ditulis miring atau lurus, bisa kita ketahui sifat seseorang.
Sewaktu kita pertama kali belajar menulis, ibu guru menyuruh kita menulis dengan ‘gaya’ yang sama dan yang pasti harus rapi dan teratur. Seiring dengan berjalannya waktu, gaya tulisan kita bisa berubah. Yang ajaib dan cukup misterius adalah kenyataan bahwa setiap individu mempunyai tulisan tangan yang berbeda.
Dengan Graphology kita juga bisa menebak ‘mood’ penulis saat ia menggoreskan penanya. Perlu diingat bahwa Graphology tidak bisa dipakai untuk meramal masa depan kita.

Contoh 1:
Kalau kita perhatikan semuanya menuliskan : “J. SETIONO” dengan rapi dan teratur dan tanpa salah eja. Ini menunjukkan bahwa penulisnya sedang ‘good mood’ ketika menggoreskan pena dan mungkin sambil tersenyum manis.

Contoh 2:
Biasanya setelah menulis beberapa kalimat, kita mulai merasa capek dan bentuk tulisan bisa saja menjadi tidak konstan. Tetapi dari contoh berikut ini kita bisa melihat bahwa tulisan tetap rapi dan teratur. Jadi ini juga menunjukkan bahwa penulis dalam kondisi ‘good mood’. (hhh… lega… Kita kan nggak mau ya.. orang sedang menulis surat buat kita tapi sambil cemberut)
Selanjutnya saya menggunakan point berikut ini untuk membaca karakter penulis, yaitu:
- Condong ke kiri, kanan atau tegak lurus
- Barisan kalimat tambah naik atau turun
- Bentuk tulisan, bundar atau persegi
- Huruf ‘t’, letak garis ‘-‘ di huruf ‘t’
- Tekanan pen di kertas 

Tulisan 1:
Tulisannya lurus biarpun tidak tegak lurus, di huruf ‘J’ miring ke kiri, artinya si empunya tulisan ini adalah orang yang berhati-hati dalam mengungkapkan perasaan. Kalimat yang ditulis di kertas tanpa garis ini pada bagian kata ’ya!’ tidak sebaris lurus, dan ini menunjukkan rasa optimis dan semangat yang tinggi.

Tulisan 2:
Tulisan yang satu ini, bentuknya ‘bundar’ dan ini menunjukkan bahwa penulis adalah orang yang ‘easy going’, ramah dan enak untuk diajak berdiskusi.

Tulisan 3:
Bentuk tulisannya ‘kotak’, menandakan penulisnya praktis dan tidak suka berkhayal. Sewaktu menulis, pen ditekan di kertas (kalau kertasnya tipis bisa tembus mungkin), ini pertanda emosinya cukup kuat.

Tulisan 4:
Agak susah membaca karakter dari penulis yang satu ini. Hurufnya miring ke kiri dan ke kanan, tidak konstan. Coba kita perhatikan di bagian ‘SEPERTI INI..”, huruf ‘I’ ditulis tegak lurus dan berikutnya miring ke kanan, hal ini menunjukkan karakter yang sering berubah. Penulis kadang bisa menahan emosinya tetapi lain waktu bisa sangat berapi-api.

Tulisan 5:
Tulisan yang rapi, hurufnya ‘bundar’, tegak lurus dan ditulis “mengambang”/di atas garis dan sangat lurus sebaris. Ini menunjukkan karakter yang kadang penuh emosi, orangnya sangat optimis. Posisi coretan ‘-‘ di huruf ‘t’ menunjukkan bahwa penulisnya mempunyai cita2 yang tinggi dan penuh inisiatif.
Yah.. sekian dulu pengamatan saya yaa.

sumber : http://community.kompas.com/read/artikel/730